Cross Network – Solusi Praktis Pay To Click Networking
Salah satu sumber duit yang bisa kita dapetin dari internet adalah PPC atau Pay Per Click. Dan kebetulan aku telah menjadi salah satu clicker yang lagi bersemangat saat ini.
Jika ada yang belum ngerti apa itu PPC maka PPC adalah Pay Per Click artinya kita akan dibayar untuk sekali klik link iklan yang tersedia, jika jumlah klik kita sudah mencapai jumlah tertentu maka otomatis penghasilan kita akan di transfer ke rekening Paypal atau account sejenisnya, dan dari Paypal kita bisa menukarnya dengan Rupiah melalui Bank-Bank local yang sudah banyak terdaftar dan support Paypal.
Di PPC selain kita bekerja sendiri dengan click tiap hari pada link yang tersedia, kita juga bisa mereferensikan teman sebagai member dari PPC yang kita ikuti, dan tentunya kita akan mendapat reward dari referral kita berupa prosentase penghasilan, semakin banyak referral yang kita punya maka semakin cepat target payout bisa kita capai.
Jika tanpa downline tentu untuk mencapai nilai nominal $1 pun terasa akan sangat lama, terlebih jika minimal Payout nya besar seperti $5, $25, $50 atau bahkan lebih besar dari itu. Karena dalam hitungan matematika akan terasa membosankan jika hanya $0.001 yang kita peroleh setiap harinya, karena keanggotaanpun masih terbagi menjadi member standart, premium, dan gold.
Pernah aku berfikir bahwa semua PPC hanyalah scam atau akal-akalan untuk web traffic saja, namun ketika transfer pertama dari PPC masuk ke Account Paypal aku, barulah aku yakin bahwa PPC pun masih bisa menjanjikan sebuah penghasilan jika kita mau kreatif memanfaatkannya.
Dan salah satunya adalah: cross networking
Ide ini aku dapet ketika aku dapetin kenyataan bahwa biasanya ketika seseorang ditawari sebuah link referral untuk gabung di sebuah PPC, kebanyakan dari kita akan mengecek langsung link yang di berikan tanpa referralnya, atau mungkin kita akan merasa menjadi bawahan dari yang menawari link tersebut sedang secara gengsi kita selalu ingin menjadi yang pertama.
Namun dengan cross networking yang kita butuhkan hanyalah komitment dan positif thinking pada team.
Ambil contoh dalam satu team kita berjumlah 4 orang teman yang clicker PPC, dimana setiap orang dari 4 itu harus terdaftar sebagai member di PPC yang berbeda satu sama lain, jika si A di PPC readbud.com dan si B dengan PPC memberbux.com, lalu si C dengan icobux.com begitu seterusnya, maka masing-masing kita akan terdaftar di 4 PPC yang berbeda.
Nah aturannya setiap orang akan menjadi UPLINE pada PPCnya sendiri dan menjadi DOWNLINE pada PPC ke Sembilan belas temannya. Artinya masing-masing akan mempunyai DOWNLINE AKTIF sejumlah 3 orang.
Jika komitment tersebut berjalan normal maka setiap hari kita bisa click sesuai standard member dan click dari Downline kita yang berjumlah 3 orang, dari situ pasti akan terlihat beda.
Dari ilustrasi tersebut, ada satu team yang terdiri dari 4 orang
Masing-masing orang mempunyai PPC yang berbeda
Setiap orang menjadi downline dari ketiga temannya
Setiap orang menjadi UPLINE dari ketiga temannya
Posisi keempatnya sama dan terjadi simbiosis mutualisme, dimana masing-masing mendapat prosentase dari kerjasama team dan kerja personal di masing-masing PPC yang diikutinya.
Selamat bergabung dalam team gan!
baru nyoba nih… Pay to Click
At MemberBux.com you will get paid by visiting our sponsor’s ads.
We offer all features of today’s PTC technology, including instant purchase processing and referral renting. The possibilities outlined:
• Earn $0.015 per click
• Earn $0.01 per ref click
• Earn 150% of each investment in AP/PP
• Minimum Payout $ 1,00
• 100 Direct referrals
• 400 Rented referrals
• Renting, Recycling and Extending referrals
• 10 Advertisements
(c) TheBuxGroup.com
As a member you have access to detailed statistics of your earnings and your referral’s activity.
What is MemberBux.com?
MemberBux.com is a free service open for users from all over the world. We bring advertisers closer to their potential customers by displaying paid advertisements. Members can earn money by clicking and viewing advertisements. Advertisers can gain traffic to their websites or programs by adding campaigns.
How does it work?
Register and log in into your account. Click View Ads from the menu to show the ads. Wait until the loading bar completes. Hit the correct number and your account balance will be credited. As soon as your account balance reaches a certain treshold you can make a request for payout.
How much money can I make from my referrals?
Free Members earn $0.01 for each of their click and $0.0025 for each of their referral’s clicks. We also offer upgraded memberships that allows you to earn even more.
etc…
Wind Struck > Kyungji
Aku menunggu angin
Yang meniupkan pesawat kertasmu hingga ia menghampiriku
Yang meniupkan kincir kertas di sudut ruangku, hingga ia menyuarakan bisikmu
.
Tiraiku terhembus, merpatiku tak lagi bertengger di daun jendela
Sayang, apakah itu kamu?
Atau hanya sebuah angin?
.
Aku mencoba terbaring mati memelukmu, dengan kait kelingking kita
Tapi saat mataku terbuka, dunia masih nyata
Aku telah mengakrabi maut, agar ia mempertemukanku padamu
Tapi saat di ujung mimpi, aku masih bisa mengejarmu di duniaku
Dan akupun kembali
.
Pergilah, aku tak mau bersedih lagi
Karena satu-satunya maaf yang ku ucap tak merubah apapun
Dan yang tak pernah ada di kamusku, itu bukanlah namamu
.
Tapi datanglah kembali, saat kau merindukanku
Meski hanya menjadi angin
Angin yang membawa seseorang dengan jiwamu dan sebuah pesawat kertas
menemuiku
Wind Struck > Wyungwoo
Aku suka angin
Dan aku pasti angin di kehidupan sebelumku
Karenanya aku tetap ingin menjadi angin di kehidupan setelahku
Di sungai itu mungkin matiku
Tapi cintamu memberiku hidup hingga hari ini
.
Ijinkan aku pergi dengan cintamu di hatiku
Dan jangan ucapkan maaf, karena itu bukan namaku
Aku tiada dan jika kau merasakan tiupan angin, maka itu adalah aku
Dengarkanlah bisikanku padanya
Karena saat itu seseorang dengan jiwaku kan menemuimu
.
Aku harus tetap pulang
Tapi kamu harus tetap hidup
Untuk memainkan piano tanpa tuts hitam
Untuk membuat lebih banyak lagi, kincir kertas di sudut ruangmu
.
Kamu telah meneteskan banyak air mata untukku
Kamu tak terkalahkan
Dan takkan mungkin mati hanya oleh satu tembakan
Karena angin takkan pernah terluka
MERDEKA WALL EXPRESSIONS
Coretan-coretan pada dinding dan media lain pada fasilitas public dapat dengan mudah kita temui setiap harinya, semakin bertambah dan semakin berwarna sehingga menjadi sebuah abstraksi expresi yang ingin di sampaikan oleh penciptanya.
.
Apakah anda pernah mencoret sebuah dinding publik? Jika iya, pastinya anda punya alasan yang bisa anda bagi kenapa melakukannya, meski akan sangat bernilai pembenaran dan alibi sebuah kesalahan namun alasan itu sendiri sedah menjadi ekspresi yang berbeda dan mandiri.
.
Graffiti atau coretan dinding, salah satu alasannya adalah untuk menunjukkan style, karakter,dan eksistensi pihak yang melakukannya, sangat jarang coretan tersebut berisi pesan moral dan social meski sebenarnya kenapa nggak? Read the rest of this entry »
Untouchable Sariwani
Minggu pagi, saat sebagian rider Gaspol beralih profesi menjadi mekanik dadakan sepeda ontel, sekaligus designer amatiran sepeda hias untuk para juniornya, terlihat bro Wisuprax dengan sang boncenger, mengetuk setiap pintu para rider Gaspol wilayah OHC, door to door! (kayak seles nih…) mengoptimalkan bakat provokasinya, mengajak mereka turing menuju puncak Sariwani, dan hasilnya?….. GATOT! alias Gak Ada Temen, Oijenan Thok! atau kalo orang awam bilang, Gagal Total.
aku di puncak ketinggian
Tidak adanya rider lain dari OHC, bukanlah alasan yang cukup kuat untuk membatalkannya turing adpentur hari itu, sehingga mereka berdua meninggalkan OHC melaju ke kota Kraksaan, tepatnya di markas Kumendan Zuga, untuk mengawali sebuah perjalanan hebat bersama para Gaspoler lain yang sudah menunggunya, termasuk bro-bro YVML.
Di markas kumendan, sebelum meter yang pertama turing dilalui, terlebih dahulu para adpenturer disibukkan dengan acara kuliner yang menampilkan aneka menu sayur Bung yang lezat mak nyuzz! mulai dari Bung Gedheg, Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, dan stop bung! Awas nek diterusno!
Setelah semuanya komplit, maka sekitar jam 8an lebih sekian, Gaspol bergerak ke arah barat, melewati POM demi POM karena BBM yang sudah full tank, Semampir dilewati acuh tak acuh, Laseman bahkan tidak dilirik, dan Bentar cukup dengan satu bel saja, barulah pada sebuah gerbang pabrik es di Dringu, konvoi berhenti untuk menjemput bro Sigit vega yang janjinya akan menunggu disana, tapi ternyata ada perubahan rencana, sehingga bro Sigit join konvoi dari pertigaan Kampus UPM.
Dengan tambahan satu armada, konvoi dilanjutkan, tapi ketika sampai pada perempatan Randu Pangger, Gaspol terprovokasi oleh sebuah tulisan yang dipasang di salah satu tiang lampu, sehingga gaspol berani menerobos lampu merah yang masih menyala tanpa rasa takut pada aparat yang telihat berjaga-jaga, bahkan tidakan berani gaspol, ahirnya diikuti oleh pengendara lain yang juga terprovokasi oleh tulisan tersebut, dengan huruf berwarna putih dan berlatar belakang biru, sangat jelas tulisan itu dibaca “belok kiri jalan terus”.
Disebuah pom bensin sebelum Leces, Gaspol berhenti sebentar untuk sekedar nambah BBM, kemudian perjalanan diteruskan, dan konvoi dijalan raya itu berahir pada sebuah jalan tembus yang kecil dan berkelok, diantara perkampungan yang masih lumayan hijau dengan sawah dan kebun terus dan teruuus hingga sampai dipertigaan sebuah pasar.
Dari pertigaan tersebut, jalanan mulai menanjak, artinya sebuah perjuangan panjang bagi si BlackNughos dan vegabuluck, karena faktor usia yang sudah mulai udzur, juga boncenger yang tidak cuma satu tapi dua dengan junior masing-masing, maka kedua motor retro tersebut menderu dan meraung layaknya sedang melesat 150km/jam, meski pada kenyataannya, sebuah becakpun akan dengan cukup sopan mendahului, oleh karenanya adegan kedua motor yang saling menyalip satu sama lain pada kecepatan 10 km/jam tersebut, menjadi tontonan yang seru bagi pengendara lain, dan juga penduduk sepanjang jalan yang dilaluinya.
Penderitaan kedua motor retro itu, untuk sementara terhenti oleh sebuah pemandangan indah lembah hijau yang terbelah aliran sungai, persis di sisi sebelah kiri jalan yang kami lalui, kami berhenti untuk sekedar bernafas dan mengambil beberapa gambar, 10 menit kemudian, gerimis memaksa kami untuk segera meninggalkannya dan menuju kesebuah rumah, dimana bro benq dan keluarga, sudah lama menunggu kehadiran kami.
Setibanya Gaspol di rumah Bro Doni, kami disambut hangat oleh bu Doni (kebetulan bro Doni lagi tour) dan bro Benq sekeluarga, kami saling beramah-tamah dan ngobrol banyak hal, sejuknya udara gunung dan nyamannya brotherhood, juga meriahnya canda-tawa menjadikan kami semakin dekat, terlebih dengan media pisang goreng dan rebus yang emmmmh, kacang rebus yang doble emmmmmh dan sruputan kopi panas yang triple emmmmmmh muanstaf ! hampir membuat kami lupa bahwa adpentur baru akan segera dimulai, namun hujan yang keburu turun, seakan berkata “ sebentar bro… jangan berangkat dulu…tracknya tak basahi dulu biar licin dan seru…ok?”
Tidak seberapa lama kami menunggu, hujan reda dan hanya menyisakan rintik-rintik kecil, kamipun langsung bersiap menuju Sariwani, karena pertimbangan cuaca dan medan yang masih belum jelas, maka kali ini masing-masing rider tanpa boncenger, bertujuh kami melibas basahnya track Sukapura, menerobos kabut dan membelah dingin jalanan yang menanjak dan meliuk.
Kolaborasi unik antara tikungan dan tanjakan, seakan tak mau kalah dengan duet maut antara licin dan turunan menukik tajam, menjadikan kami seorang penjelajah sejati sebuah hutan, yang jauh dari kesan indonesia dengan pembalakan liarnya, karena yang kami temui hanyalah hijau segar dedaunan, tinggi julang pepohonan, dan semarak pesta para burung dengan kicauannya.
Buaian alam yang begitu megah dan indah menghantarkan kami pada puncak sebuah bukit, dan melewatkan sebuah villa, kami berhenti sejenak, di sisi kiri terlihat lembah yang mengerucut jauh kebawah sana, dengan corak garis-garis bersilangan tanaman sayur yang rapi di seluas hamparannya, menyempurnakan alam yang layaknya terselimuti kapas, dan di sisi kanan adalah jurang yang teramat curam, tidak ada pagar pembatas antara kami dengan bibir tebingnya, selain semak belukar, disebaliknya terlihat hamparan luas sebuah pemukiman, jauuuh dibawah sana, bahkan area hotel Grand Bromo, terlihat hanya sejengkal dari ketinggian kami, sempat terlintas dibenak penulis “ apakah kami masih terlihat dari bawah sana?”
Photo-photo dan dokumentasi video kami lakukan sejenak, sebelum perjalanan kami lanjutkan, berat sebenarnya kami meninggalkan megahnya pemandangan itu, akan tetapi kami melihat sebuah jalan menanjak dan berkelok didepan sana, maka pastinya akan ada keindahan dan kemegahan lain yang akan kami temui lagi, jika kami mampu menaklukkan ketinggiannya dengan motor-motor kami, lagi-lagi kamipun menderu dan sedikit-demi sedikit punggung bukit itu kami tapaki, naik dan naik terus dan terus hingga kami menemukan sebuah persimpangan jalan, jika kanan terus naik menanjak, dan kiri menurun menukik, keduanya sama-sama tidak kami tahu berujung kemana, oleh karenanya kami berhenti dan bertanya pada seorang pribumi yang dengan ramah menjawab pertanyaan2 kami.
Oleh bapak setengah baya yang bernama Alex Yudhoyono tersebut (pasti pada gak percaya kan kalo namanya begitu….? tapi percaya aja deh…. daripada mesti balik lagi kesana cuman mo mastiin doang..?) dijelaskan, bahwasanya arah kanan adalah jalur menuju Wonomerto, yang jika terus akan sampai ke Semeru, artinya jika kami mengambil arah kanan, maka pastinya akan kami temui most biutipul view versi hutan, karena wono berarti hutan dan merto berarti besar atau luas, yang dalam arti lain adalah tersesat alias tidak menemui jalan pulang, sedang yang kearah kiri adalah mlungker balik lagi ke Sukapura dengan medan yang jauh beda dari yang sudah kami lalui, dimana jalanan tersebut lebih sempit, plus turunan yang menukik dan licin, ditambah bonus makadam yang sudah abstrak dan berbatu tajam sepanjang 2 km (versi Alex) atau 12 km (versi bro benq), bahkan secara ekpresi wajah, pak Alex yang juga mandor kebun dengan koleksi 2 Harley Davidson dirumahnya tersebut (walaah tambah ngawur…), mengisyaratkan untuk tidak mengambil salah satu dari dua jalur itu dan akan lebih aman jika balik kucing melewati jalan kami datang.
Akan tetapi bukan Gaspol namanya jika hanya dengan gambaran exstreem seperti itu, menyurutkan nyali dan sense of adpenture, karena bagi kami para gaspoler, se extreem apapun medan, kalo masih berupa gambaran, maka berarti sebuah tantangan yang harus kami lalui bukan kami hindari, terlebih kami yakin bahwa daripada balik mending terus, kalo sama-sama sampai Sukapura… siapa tahu…. siapa tahu….betul gak?.
Betul….. kamipun sepakat untuk terus melewati jalur kiri dengan konsekuensi kebenaran tentang penjelasan p. Alex tentang ke tidak safe an jalur tersebut, meter demi meter kami turuni bukit itu dengan tetap memanjakan mata, menikmati sepuasnya kemegahan alam dikanan dan kiri kami, karena jalanan masih beraspal dan memungkinkan kami untuk sesekali mencuri pandang pada alam dan para petani yang kami lewati.
Akan tetapi lima belas menit kemudian kami menemui kenyataan, bahwa pernyataan P. Alex tentang kondisi makadam tersebut memang benar, akan tetapi pernyataan bahwa panjangnya 2 km sangat tidak bisa dibenarkan dari sisi manapun, dan mulailah kami berjuang untuk bisa mencapai meter demi meter kedepan dengan sangat susah payah, bahkan saking beratnya medan, konsentrasi 100% pun masih belum cukup, karena selain menukik, makadam yang berbatu tajam dan sudah tak beraturan tersebut, juga licin banget dengan lumpur disela-sela batunya, dan yang lebih extreem kita tidak bisa memilih untuk terpaksa jatuh ke kanan atau ke kiri, karena sama-sama berarti hilang ditelan kabut yang menyelimuti jurang curam di kedua sisinya.
Pemandangan indah selimut kabut pada hamparan lembah yang luas, jejeran rapi pohon pinus yang menjulang tidak sempat lagi kami nikmati, karena yang nampak bagi kami hanyalah batu-batu tajam berserakan yang licin berlumpur, kami tidak bisa mengambil resiko untuk mengalihkan konsentrasi dari jalanan ke indahnya pemandangan, karena kami tahu betul bahwa itu tindakan konyol dan akan berakibat fatal, kalau gak jatuh, ya pasti jatuh banget, kalau gak sakit, ya pasti sakit banget… hal itu sudah dibuktikan sang kumendan zuga yang mempunyai rekor nyungsep 2 x, bro benq 1x, dan bro Sigit 1x, dengan kata lain mereka bertigalah yang “paling berpengalaman”.
Disetiap jalan yang ada datarnya meski sedikit, bisa dipastikan kami berhenti untuk sekedar menghembuskan nafas yang tertahan sekian lama, mengendurkan otot-otot, dan relaksasi mental sebentar, untuk kemudian melanjutkan perjuangan, melewati maut yang selalu siap di tajamnya batu-batu makadam dan di curamnya jurang, sehingga tidak terpikir untuk mendokumentasikannya.
Hujan datang saat jalur makadam belum semuanya kami taklukkan, menambah berat tantangan yang harus gaspoler hadapi, meski kami juga bersyukur, karena hujan juga menyirami dahaga kami, terlebih Kumendan yang sudah shock, terlihat pucat dan gemetar, kami berkemas memakai jas hujan, namun bro Ari yang ke(tidak)betulan tidak membawa jas hujan terpaksa harus berbasah-basah di ketinggian sekian ribu diatas permukaan laut, berkabut, dan kalut, namun ketegangan dan konsentrasi penuh mengabaikan dingin dan cuaca disekitarnya, kamipun meneruskan perjalanan dengan ban basah di track yang basah susah payah.
Euphoria yang meluap benar-benar kami rasakan ketika di hadapan kami terlihat jalanan sudah rata dan beraspal , sehingga perasaan tersebut terekpresikan dengan menarik gas dalam-dalam dan meliuk- liuk dijalanan yang jauh lebih safe dari sebelumnya, kamipun kembali bisa berkendara sambil menikmati basahnya alam sekitar, menjadikan mereka alam lebih fresh dan menentramkan jiwa, meski suara-suara perut semakin jelas terdengar…ya kami haus dan lapar…
Ketika kami sampai kembali di sukapura, misi pertama kami adalah menemukan warung terdekat untuk memenuhi tuntutan perut, yang sudah dikocok dan di goncang selama perjalanan tadi, lalu sampailah kami di sebuah warung deket pasar, 500an meter dari rumah bro Doni yang menyediakan berbagai menu khas indonesia, kami parkir dan melepas jas hujan kami masing-masing, kemudian berebut memesan makanan sesuai dengan selera, bro benq, penulis, dan bro sigit mantap dengan krengsengan ati sebagai pilihannya, sedang bro yang lain…ah gak urus.. karena gak sempat penulis perhatikan, lapar banget sih….
Manstaf..! adalah kesan yang kami rasakan setelah melahap sendok demi sendok, nasi dengan taburan ati ayam dan berkuah coklat tersebut, mak nyuzzz boleh jadi lezatnya rasa, sebagian besar dipengaruhi oleh kualitas lapar yang di atas standar, namun secara keseluruhan, perut kami menemukan isi dengan rasa dan porsi yang passs!, terbukti bro Ari dengan tersipu berkata “ he he he sori bro lapar banget..” setelah kepergok oleh penulis ia nambah 1 porsi lagi.
Setelah makan dan merokok, kami kembali ke rumah Bro Doni menemui boncenger kami masing-masing, sambil beristirahat dan saling meluapkan kepuasan kami melakukan adpenture turing siang itu. Tercatat jam 3 persis kami sampai di situ.
Satu jam kami beristirahat dan mereview perjalanan yang menegangkan beberapa saat sebelumnya, dengan tetap ada media kopi panas, pisang goreng dan rebus , juga kacang rebus menemani kami. Hingga pada jam berikutnya kami berpamitan dengan tuan rumah, yang telah bersahaja menyambut kami dengan hangat berkerabat, terima kasih kami sampaikan dan maaf kami mohonkan.
Perjalanan pulang kami lakukan dengan santai, karena stamina yang terkuras dan tentunya konsentrasi yang mulai berkurang, namun karena kami telah mengawali hari itu dengan petualangan yang hebat, maka sugesti kebahagiaan menjadikan kami tetap bertahan, sampai di pertigaan Randu Pangger, bro Sigit dan bro wisuprax memisahkan diri dari rombongan, kemudian kumendan di pertigaan Rondo kuning, lalu bro Zaen di Semampir dan penulis di pertigaan kandang jati, sehingga bro ari yang pastinya terahir sampai dirumah karena rumahnya yang di ujung timur.
Kami semua selamat sampai dirumah masing-masing, dengan kasih dan perlindungan yang maha kuasa
Turing kali ini menyentuh sisi religi kami dengan megahnya alam ciptaan yang kami saksikan, dan keselamatan yang telah kami dapatkan, serta kebahagiaan yang kami rasakan.
Sibuluck berenang di Savanna Bromo
280309 Sebenarnya catatan perjalanan ini adalah versi lanjutan dari rangkaian penyambutan yvml 250 saat mengejar matahari sampai Probolinggo, namun karena perjalanan yang kami lakukan setelahnya cukup layak untuk kami catatkan, agar bisa menjadi referensi dan pre-itinerary turing bertheme adventure bagi paravega yang akan melewati rute yang telah kami lalui tersebut.
09.07 bbwi – ketika keindahan bromo sudah tertelanjangi oleh mata masing-masing kita, dan segarnya oxygen gunung sudah merasuk ke relung jantung, kami kembali ke penginapan yang sudah di book sebelumnya.
Di situ kami repacking segala sesuatunya untuk melanjutkan perjalanan, yang berarti harus meninggalkan bro goesda n sis Ita erta bro Sigit menikmati sisa pagi di cemoro lawang (dalam kesempatan ini kami mohon maaf banget) karena gw, bro ary n boncengernya sudah ada misi dari FBI, yang harus kami selesaikan hari itu juga ,yaitu gw ke Blitar dan Bro Arry ke Malang.
Kami sebenarnya sudah di bekali selembar peta oleh bro Dony, saat kami singgah di base office VolcanoAdventureIndonesia.com , namun saat itu kami masih ragu tentang jalur alternative yang di sarankannya jika ingin menghemat waktu sampai di tempat tujuan, yaitu mengitari sisi kiri gunung bromo dengan wahana padang pasir, padang savana, dan tebing cs serta hutan tropis yang lumayan lebat, dengan kondisi jalan yang sebenarnya tepat untuk motor jenis ATV, dan tidak untuk sibuluck.
Dan kami mengambil resiko tersebut, meski tidak ada satupun diantara kami yang pernah melintasinya, tapi setidaknya gw pernah liatin photo2 dan video dari gaspoler yang pernah menaklukkannya, oleh karenanya setelah berphoto dan pamitan, kami bertiga kembali turun ke lautan pasir.
Pada awal kami melintasi lautan pasir tersebut kami melakukan kesalahan perhitungan, dimana yang seharusnya kami masuk dahulu ketengah laut sebelum belok kiri dan mengambil jalan napak tilasnya 4×4 WD, namun kami malah mengambil rute tarik lurus dari gerbang laut hingga padang savanna, yang hasilnya waktu kami molor hingga 45 menit dari perkiraan kami menghemat waktu.
Kesalahan prediksi tersebut menjadikan kami harus berjuang hidup-hidupan melintasi halusnya pasir yang kering dan terhampar luas, jika dilihat dari atas, kami membayangkan bahwa kami sedang berenang, dengan pelampung motor vega dan mendayung dengan kedua kaki kami, melawan arus dan ombak yang sesekali membelokkan arah kami.
Meter demi meter kami lalui dengan susah sungguh, tidak ada kami temui satupun jejak roda motor maupun mobil yang pernah melintasinya, bahkan ketika sampai pada capek dan haus yang sangat, bro arry berhenti, dan dengan putus asa ia bertanya “ bro… bener ta arah yang kita ambil ini ? “ lalu dengan sedikit mantap yang dibuat-buat penulis menjawab “ bener bro, kita terus aja, ntar lagi kita nyampek di savanna dan dari sana kondisi jalan sudah padat” sekali lagi bro ari menoleh ke belakang seakan bimbang, jika menyerah berarti harus kembali pada perjuangan yang sama, karena kita sudah terlalu jauh meninggalkan cemoro lawang, namun jika terus, berarti perjuangan ini tidak berarah pasti, akan seperti apa kondisi pasir di depan, akan seperti apa bahaya yang mungkin harus ditaklukkan.
Sekian detik, kami mencoba mengembalikan kepercayaan diri dan keyakinan, bahwa perjuangan ini akan berhasil, lalu dengan menghirup nafas dalam-dalam, sibuluck dan cs-nya kembali berenang….
10.47 atau tepatnya 97 menit kemudian, kami berhasil mencapai savanna, capek dan haus yang kami rasakan sebelumnya seketika sirna oleh eksotisnya savanna tersebut, wajar saja jika para gaspoler menyebutnya sebagai padang telletubbies, karena memang teletubbies banget, dengan hamparan rumput pada gundukan-gundukan yang bertebaran, mengkiaskannya bagai gundukan lembut dalam selimut yang nyaman di emut…… ups! glodhag ! krompyang! Dor! Beh! ngelantur….. pokoknya gw bisa lebih enjoy bersama sibuluck, apalagi bro n bra sepasang kasmaran yang semotor di belakang gw, pasti melayang…..
17 menit kami menikmati savanna tersebut, sebelum ahirnya kami menemui tanjakan berkelok yang sempit di antara tebing dan jurang sepanjang 27 menit perjalanan, terhitung sudah dua kali kami berhenti dan bertanya pada orang hutan yang kami temui, ups! Untuk memastikan kebenaran arah kami.
Ada banyak view point yang sebenarnya wajib kami abadikan dengan kamera kami, namun karena capek dan keterbatasan waktu serta prediksi kedepan yang gak jelas, maka kami terus dan terus melaju, menyisakan indah dan megahnya alam dalam ingatan kami.
11.07 Setelah tanjakan kami lalui maka kini tiba pada rute menukik turun yang harus kami alami, dan perjalanan pada tahap inilah yang merupakan perjalanan paling melelahkan setelah lautan pasir, karena kondisi jalan yang berbatu dan menukik, juga panjangnya lereng yang harus kami lalui, oleh karenanya penulis sempat mengeluh “ kok gak habis-habis ya turunan ini……”, hingga tercatat rekor 117 menit perjalanan, ndelosor turun gunung.
12.27 Sesampainya di tumpang yang sudah masuk wilayah malang, kami bisa bernafas legaaaaaaa karena kami mengahiri jalan berbatu dan kembali ke jalan yang benar, halah! Kami merayakan kebebasan kami dengan teriakan dan tarikan gas dalam-dalam beberapa saat, layaknya juara race yang sukses melewatkan tegangnya persaingan.
Di kanan dan kiri kami terhampar kebun apel, dan kami menikmatinya beberapa saat, sebelum kami akhirnya kembali ke belantara kota Malang.
Pada pertigaan Dampit penulis dan bro ari berpisah karena memang arah kami berbeda, dari situ penulis meneruskan perjalanan ke arah Gadang untuk kemudian Kepanjen – Karang kates – Wlingi – dan berahir di Blitar.
13.17 Sesampainya penulis cuci muka dan langsung zzzzzzzzzz hingga lupa confirm pada korwil kalo udah selamat sampai 7an.
Mekaten sedoyo ingkang saget dalem aturaken, kirang punjulipun dalem nadah kajembaran manah, estu lan pangapunten panjenengan sami.
Bromo with YVMLer
17.57 dalam perjalanan pulang dari menjenguk seorang temen yang kritis di Pasuruan, tepatnya di km ke 17 dari kota Nguling, sebuah lagu drive yang berjudul melepasmu, menyadarkan kami dari nuansa mellow dan segera saja aku angkat panggilan dari nomor asing tersebut.
Dari seberang sana terdengar logat sunda yang kental dan terasa akrab, namun ada beberapa kalimat yang sempat lepas dari indra dengar aku, dan salah satu yang paling fatal adalah tentang identitas siapa nama asli dia. Namun karena ternyata kita sama-sama member Yamaha-vega@yahoogroups.com maka tentang nama menjadi terasa tidak begitu penting.
Dia mengkonfirmasikan keberadaannya di Malang, tepatnya dikawasan pulau sempu, sebuah pulau yang berada di 2 jam perjalanan dari kota Malang kearah selatan, doi dan doinya sedang ada perjalanan kesana dan berniat singgah di Probolinggo untuk silaturahim dengan YVMLer juga skalian menyambut matahari dari puncak bromo.
Dari percakapan tersebut, segera penulis menghubungi semua member Probolinggo untuk menyampaikan berita kedatangan bro Bhucex (sangkaan awal) dan mengajak mereka untuk mengadakan kopdar khusus untuk mengatur itinerary penyambutan dan pengawalan sang doi hingga pulangnya nanti, ternyata kopdar hanya bisa di jalani oleh 136 dan 137 selebihnya kita teleconference via internet, dan disepakati bahwa semua member bisa pada hari tersebut.
Karena prediksi sampainya yang dari Malang di Probolinggo sekitar jam 14.00 maka penulis memutuskan untuk mengambil cuti ½ hari, sedang bro Ari malah sehari penuh dan Ra Odhenk memang liburnya Jum’at sedang bro Sigit bisa kapan saja menunggu du markasnya, karena selain jalur akan di lewati juga karena di punya otoritas paling tinggi ditempat dia bekerja alias bos kecil.
Jam 11.00 tepat penulis aku dari kantor dan langsung pulang menuju Kraksaan setelah confirm dengan paravega lainnya, untuk mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk yang mau dibawa sampai Blitar, karena memang misi yang akan aku jalani hari itu adalah Tour ke Blitar Via Bromo.
13.00 Ari datang sendirian karena boncenger sedang OTW dari Gresik menuju Probolinggo, dari rencana kita menunggu Di Probolinggo menjadi molor panjang ketika sebuah confirm bahwa yang dari malang ternyata sulit menemukan angkutan dari Turen menuju Arjosari, yang dengan begitu sebuah hitungan menunjukkan jam 7 sampainya mereka di probolinggo.
saat menunggu kedatangan boncengernya Ari, terlihat bro odhenk cengar-cengir dating dengan atribut kepegawaiannya, seakan menertawakan keluguan kami, karena ternyata cuti setengah hari yang terlanjur kami jalani tidak benilai apa-apa selain nongkrong di rumah dan menghabiskan waktu.
Dan benar ketika jam sudah menunjukkan pukul 14.00 Ari mendapat confirm untuk menjemput sang kekasih di halte untuk selanjutnya gabung di barisan penunggu setia, selama itu, kami sebenarnya sudah di coba berualang kali untuk connect dengan bro yang dari Malang, namun selalu saja gagal dan meskipun bisa, info yang didapatkan tidaklah begitu akurat, oleh karenanya ahirnya kami memutuskan untuk segera berangkat nanti setelah jam 7.
Jam 7 sudah berlalu dan kami bertiga segera meluncur menghampiri bro Odhenk di rumahnya, setelah berpamitan dengan Junior dan mamanya Odhenk bergabung dalam barisan, namun sempet muncul ide untuk menyeragamkan atribut kami dengan jaket yang beridentitas, oleh karenanya segera bro Ari mengusulkan untuk meminjamkan odhenk jaket milik temennya yang sesame mototracker.
Sesaat sebelum start, iseng2 aku sms ke kumendan suga yang merupakan punggawa gaspol.org untuk sekedar confirm bahwa kami siap berpetualang sekaligus mengiming2inya, jawaban yang kami dapat sungguh luar biasa, dimana ternyata kumendan mau bergabung dan masuk dibarisan.
Dengan sangat pede, kami berlima meluncur menuju markas bro sigit, sesampainya disana setengah jam kemudian, ternyata sang korwil juga sudah suntuk menunggu, karena jadwal yang molor sekian banyak jam, mengakibatkan asa sedikit terkikis dan pisang rebuspun semakin lembek dan dingin.
Kembali kami konfirmasi ke bro yang dari Malang, namun ahirnya kami mendapatkan info 90% pasti, bahwa kedatangannya di Probolinggo -+ jam 10 bbwi, kamipun mengisinya dengan ngobrol dan ngopi serta mematangkan acara penyambutan bro xxx dari Jakarta, sedang kumendan pamit duluan karena harus nyamperin salah satu temennya, untuk diajaknya masuk di barisan.
Jam 10an, saat pisang rebus tinggal separuhnya dan sepiring rawon kikil sudah mutasi ke perut aku, bro odhenk mendapat confirm bahwa bro xxx sudah landing di terminal dan siap dijemput, kami segera berkemas dan menderu menuju terminal, namun baru sampai pada gerbang masuk kota sibuluck berkedip dan terpejam begitu lama, ahirnya kami berhenti dan mencoba menganalisanya.
Ternyata lampu depan sibuluck putus dan harus diganti, sejenak kami bingung harus kemana mencari toko yang masih buka pada jam segitu, namun kami ahirnya inget bahwa di wilayah Pilang ada sebuah bengkel yang buka 24jam sehari dan 7hari seminggu.
Singkatnya kami ahirnya mengetahui bahwa bro yvml yang dari Jakarta tersebut adalah bro Goesda a.k.a Glorified dengan soulmatenya sist Ita.
Sejenak kami ngobrol untuk sekedar memastikan bahwa ternyata kami salah prediksi selama ini.
Sesaat sebelum meninggalkan meeting point, ada sebuah konfirmasi penting dari keluarga bro Odhenk yang mengharuskan ia balik kanan dan gagal mengikuti tur malam itu, oleh karenanya sibuluck yang semula hanya berboncengan dengan backpack harus plus bro sigit, karena motornya di kendarai oleh, bro Gusda dan sist Ita, lalu dengan terlebih dulu berdoa bersama, berangkatlah kami berenam menuju puncak.
Dengan terseok dan susah sungguh, ahirnya sibulcuk dan kedua saudara mudanya sampai di Sukapura dimana kumendang agus dan bro Bambang serta bro Doni sudah menunggu di markas Volcanoadventureindonesia.com sebuah markas para pakar volcanology yang siap mendampingi siapa saja yang ingin mendapatkan pengalaman berpetualang di gunung berapi Indonesia.
Sesampainya kami disana, secangkir kopi hangat, dan seporsi kacang rebus plus kentang, menjadikan dingin yang mulai terasa mendapat perlawanan yang seimbang, apalagi ketika obrolan mulai mengarah pada gimana sukaduka seorang contributor national geography dalam menjalankan misinya, juga ketika topic berganti pada attitude yang harus kami lakukan ketika melintasi tempat-tempat yang di sakralkan oleh penduduk tengger, menjadikan kami sedikit mengabaikan dingin yang mulai menyelinap dibalik jaket dan selimut kami.
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi dan obrolan kami berahir pada pertunjukan photo-photo luar biasa dari megahnya alam yang berhasil di abadikan oleh bro doni, karena waktu menyambut sunrise sudah dekat dan sibuluck harus memanjat sekitar 30 jam lagi untuk sampai di puncak bromo, maka kami berpamitan.
Tanjakan selanjutnya yang kami lalui mungkin masih belum terasa extreme untuk saudara muda sibuluck, namun terasa sangat tinggi untuk sibuluck yang sudah senior (malu kalo dibilang tua) hasilnya di tanjakan terahir, sibuluck terpaksa di papah dan di dorong untuk melewatinya.
Sesampainya di cemoro lawang, kami terlebih dulu booking kamar untuk beristirahat sepulang dari kawah, dan disana barang bawaan yang kurang berguna kami tinggalkan dulu untuk mengurangi beban. Photo-photo sebentar kamudian kami turun melewati lautan pasir.
Kami sempat tersesat ke arah batok karena kami mengikuti pembatas yang berjejer di sepanjang lautan tersebut, namun oleh seorang penunggang kuda kami diarahkan ke jalan yang benar, dan sampailah kami di sebelah pura, tempat terahir kami parkir.
Unpaking kami lakukan, menghampar tikar dan mulai memanaskan kopi susu untuk menyambut sunrise, kami sengaja tidak naik ke kawah, karena angle dari sana sudah umum dan popular, kalo kita mau tinggal search di google maka beratus sunrise dari kawah, mudah kita dapatkan, kami mencoba view yang tidak umum sebagai alasan kecape’an kami.
Beberapa saat sunrise mulai kami sambut, dan berpuluh jepretan mengabadikannya, hingga objek mulai berpindah ke kami-kami yang narsis bertampang di jilat lampu blits dengan background megahnya bromo, batok, dan alam lainnya.
Setelah dirasa puas menikmati megahnya alam, dan panas mentari mulai menyengat, kami kembali ke penginapan untuk beristirahat bagi bro gusda, sist Ita dan bro Sigit, namun untuk memulai perjalanan baru bagi penulis, bro Ari dan sist Ani kembali ke lautan pasir, savanna dan puncak jemplang untuk selanjutnya kearah malang dan melewatinya hingga Blitar.
Catatan seru perjalanan tersebut ada di “vega yang berenang”
Pantai Tambak Sari Pajarakan
Pertama kali aku mendatangi tempat tersebut sekitar 3 bulan yang lalu, kondisinya masih begitu natural, sehingga apa yang terlihat sekarang sangatlah jauh berbeda, jika dulu nuansa pantai yang bersih dan damai serta rindang pepohonan di sekitarnya meski jalan akses masih sangat sulit, maka kini kemudahan akses dan fasilitas umumnya harus dibayar mahal dengan semakin gersangnya pepohonan, dan semakin banyaknya tumpukan sampah disana-sini.
Dan hari itu adalah kesekian kali aku mengunjunginya dalam liburan awal tahun ini setelah menyelesaikan serangkaian perjalanan bersama sibuluck mulai dari Sungai Nyai Ronggeng di kawasan Bago terus naik sampai condong dan kembali turun menyusuri pedesaan dan luas hamparan sawah dikiri kanan jalan menuju pertigaan Padjarakan.
Perjalanan tersebut berawal dari gagalnya aku mengajak beberapa teman sesama rider dari YVML sehingga alternative aku coba menghubungi bro Nurul seorang member offline komunitas Yamaha Vega yang ternyata juga masih bingung menentukan target liburan awal tahun ini.
Kesepakatan kami adalah bertemu di Pasar senen daerah puncak Besuk, untuk kemudian meneruskan perjalanan menyusuri hutan jati yang teduh dan natural, sebenarnya perjalanan dengan rute tersebut lebih merupakan napak tilas karena beberapa kali sebelumnya sibuluck juga menempuh rute yang sama namun yang agak berbeda kali ini adalah rencana diteruskannya nanjak sampai puncak Bremi untuk menikmati Susu Sapi segar dan memborong buah durian, serta menikmati sejuk udara gunung.
Rencana tiba-tiba tersebut berawal dari SMS Kumendan Gaspol yang menghentikan laju sibuluck demi untuk mengkonfirmasikan bahwa Kumendan Syofie sudah standby dirumah untuk menculik dan membawanya ke Bremi , yang kemudian mengajak kami untuk gabung di touring tersebut, karena arah kami juga mudah untuk sekedar belok dan searah dengan tujuan para petinggi Gapol tersebut, maka kami setuju dengan syarat tidak terjadi hujan karena, memang pada saat itu bro Nurul tidak menyiapkannya.
Dealnya kami bertemu di pertigaan Condong, yang karena jarak kami lebih dekat maka lebih dulu kami sampai dengan sedikit kuyub karena selama lima menit sebelumnya kami terguyur gerimis yang lumayan basah, rupanya gerimis juga menghantui para kumendan sehingga konfirmasi bernanda pesimis sampai pada kami, namun hanya aku jawab “ terserah gimana enaknya”.
Beberapa menit kami menunggu ahirnya dengan terbungkus rapat oleh jas hujan kedua pengendara dengan kelima boncengernya menghampiri kami yang berteduh di emper took, namun karena hujan yang semakin meyakinkan akan deras dan lamanya maka demi brotherhood juga aku putuskan untuk tidak bersama para petinggi gaspol tapi turun kebawah bersama rekan rider dari vega yang tidak melengkapi dirinya dengan jas hujan, ahirnya kami berpisah.
Kami meneruskan perjalanan dan begitu sampai di pertigaan yang menuju lokasi wisata DAM8 kami sempat berhenti ragu akankah kita tuju atau tidak, namun bro buruk meyakinkan bahwa evennya tidak tepat jika kita mengunjunginya sekarang bahkan dia mengusulkan untuk terus turun gunung hingga kedalaman 0meter diatas permikaan laut alias ke pantai.
Dan dari sekian pantai kami pilih pantai Tambaksari sebagai penutup serangkaian touring hari ini, selain karena saat itu sedang ada live konser, juga kami menilai cocok bagi junior untuk bermain air dan pasir, namun ternyata untuk sampai dilokasi kami harus berjuang sedemikian berat karena arus lalulintas yang sangat padat dan jalan yang sempit membuat kami harus kepanasan dan sabar ditengah antrian para pengunjung yang datang dan pergi.
Dan mungkin juga karena masih ada sedikit sisa hoki, maka entah bagaimana bisa ahirnya kami masuk ke lokasi tanpa harus membayar satu retribusi apapun, mulai parkir hingga ticket karena begitu kami parkir dengan tampang yang SKSD seorang petugas parkir menyilahkan kami menempatkan motor kami di tempat vip dan menunjukkan jalan yang harus kami lalui setelahnya, dengan sedikit penasaran kami turuti apa saja yang di instruksikan, mungkinkah ada yang mengenal kami dengan baik?, atau malah mereka yang salah orang? Ah bodo amat…. Selama mereka baik pasti aku balas kebaikan mereka kelak !.
Oleh seorang guide kami dibawa menyusuri lorong tambak yang menuju lokasi konser, dengan sedikit memilih pijakan jalan ahirnya kami sampai di tempat dimana kursi dan tenda sudah tersedia untuk kami duduki dan menikmati show yang sedang berlangsung, dan iwen pun segera berlarian ke pantai untuk bermain.
Ombak yang tak begitu beriak dan angin yang tak begitu kencang berisik menambah suasana pantai semakin keren, terlihat orang-orang yang duduk dipasirnya menikmati horizon dan laju perahu yang mondar mandir, diselingi teriakan anak-anak kecil mengekpresikan kegembiraan, serta teriakan paramuda yang larut dalam hentakan music yang sedang berlangsung seakan meyakinkan bahwa hari takkan pernah berahir.
Dengan tak lupa mencari dan jepret sana sini, aku memaksimalkan siNikon menyimpan sebanyak-banyaknya kegembiraan dan kemeriahan pantai beserta indahnya di memorinya, mulai dari objeck pantainya, pengunjungnya, artis dan suasananya serta beberapa object abstrak yang aku rasa bernilai seni.
Dengan sisa beberapa lagu yang bisa kami nikmati, hari telah menjelang sore sehingga kami sudah waktunya pulang.
Perjalanan hari itu kami ahiri dengan sebungkus sate ayam untuk kami jadikan makan malam menjelang tidur .
Sambil berdoa dan berterimakasih pada tuhan untuk kegembiraan dan kebahagiaan yang telah kami jalani hari itu, kami terlelap.
Kegembiraan hari itu kami ahiri dengan terimakasih yang mendalam pada tuhan yang maha kasih.
Black Corner Pantai Bentar Probolinggo
Sudah sejak sebulan lalu memang, baliho besar yang berisi informasi tentang akan adanya kontes modifikasi motor di Pantai Bentar tersebut terpampang di sudut halaman gedung Sasana Krida Kraksaan, namun karena memang penulis masih menyisakan rencana untuk menyambut dan menikmati pergantian tahun diluar kota bersama keluarga, maka event tersebut masih terabaikan.
Memang pada awalnya kami berencana untuk pergi ke cottage Sido Muncul 1 di kawasan wisata pasir putih Situbondo untuk kami sambut datangnya tahun 2009, dimana pertimbangan kami adalah, di lokasi tersebut terdapat sebuah pantai pasir putih buatan yang cukup luas, tentunya akan memberi privasi dan kenyamanan lebih untuk kami berlibur tanpa harus berebut dengan penikmat pantai lainnya, disbanding dengan pasir putih yang terbuka untuk umum, juga fasilitas indoor yang memadai serta lokasi yang tidak terlalu jauh dengan Pasir Putih jika kami ingin suasana outdoor, selain itu juga terdapatnya sebuah gazebo serbaguna besar diluar cottage disana terdapat live music dari berbagai band local serta kesenian lainnya, juga yang tak kalah pentingnya adalah pertimbangan terjangkaunya biaya akomodasi bagi kami.
Namun rencana tersebut menjadi kabur setelah junior Iwen kecape’an dan sakit beberapa hari kebanya’an ikut touring sibulcuk hingga mendekati minggu terahir bulan desember 2008, yang memaksa kami mencancel book kami di Sido Muncul, dan sejak konfirmasi itu tidak ada kami temukan tempat dan acara pengganti yang semacam di Sidomuncul namun masih confort untuk proses pemulihan Iwen.
Hingga menjelang malam terahir 2008 tepatnya di menit-menit ahir babak kedua pekerjaan kantor muncul ide untuk ngompori paravega dan Gaspol untuk setidaknya kimpul-kumpul bareng di suatu tempat, dan ternyata kompor bener meleduk karena di detik terahir sebelum peluit di tiup panjang terjadi kesepakatan dengan Gaspoler untuk hunting bersama ke Black Modification contest di pantai Bentar, meski ada sedikit embel-embel kalau tidak hujan dan warning bahwa salah satu HP dari gaspoler yaitu blue stupid tidak bisa dihubungi karena hang.
Segera aku konfirmasikan ke junior dan boncenger tercinta tentang rencana hang out bareng tersebut, lalu dengan semangat Iwen mengiyakannya, maka secepatnya setelah upload beberapa artikel di web aku pulang dan mempersiapkan segala sesuatunya.
Hingga jam 7 yang dijanjikan, belum ada satu konfirmasipun yang menyatakan kesiapan atau keberadaannya, oleh karena aku mencoba SMS ke Kumendan Black Suga, dan dijawabnya bahwa doi masih shoping di Diva dan menyatakan siap menunggu di pertigaan Rondokuning kapanpun ga spoler lewat, segera sibuluck melaju menuju alun2 kraksaan meeting point yang disepakati.
Menit demi menit kami habiskan untuk menuggu gaspoler yang lain, namun hanya Kumendan yang kemudian lewat dan nyamperin kami untuk konfirmasi kesiapannya, sedang Iwen dengan tegasnya menolak parkir lama-lama di tempat tersebut dan segera ingin sampai ke Pantai Bentar.
Dengan kekecewaan karena tidak munculnya blue stupid cs ditambah konfirmasi black Suga yang gagal hangout maka sendirian sibuluck melaju kearah barat menuju Pantai bentar yang sedang hingar bingar, sesampainya sibuluck langsung menempati parkir bersebelahan dengan sodara-sodara mudanya, sedang kami bertiga segera menuju loket untuk membeli ticket masuk seharga 10.000 rupiah perkepala denganbonus sebungkus rokok Black16 per ticket.
Sambil jepret sana sini aku berusaha mendokumentasikan kemeriahan malam itu kedalam gambar, mencoba untuk membawa pulang kemegahannya dengan sekotak kamera, ada banyak objek yang wajib di jepret mulai dari jejeran panjang motor-motor yang dimodif abis juga kumpulan beberapa klub motor dari dalam dan luar kota yang cukup atraktif serta pastinya cewek-cewek cakep yang berusaha menyatu dengan gemerlap lampu dan hingar bingar music hip hop seorang DJ dari sebuah panggung yang lumayan besar dan ngeBlack abis.
Jenis dan kelas modifikasi yang dilombakan sangat bervariasi sehingga nampak sekali malam itu begitu komplit bentuk motor yang terpajang, dari yang sekedar mengandalkan tampilan kulit, atau kontruksi, atau teknologi atau juga bahkan paket dari kesemuanya, pokoknya sulit bagi kita untuk membandingkan antara motor satu dan lainnya karena masing-masing mempunyai kelebihan dan keunikan tersendiri.
Penjelasan detai l satu-persatu motor yang terpajang aku rasa tidak perlu aku tuliskan Karena pastinya Oto Tren sebagai sponsor akan mengulas dan menyampaikannya secara detail dan gamblang, namun yang pasti malam itu bener-bener sebuah paket komplit dari sebuah perayaan tahun baru bagi seseorang yang berkomunitas motor.
Selain motor-motor yang keren, kita sebagai pengunjung juga akan dimanjakan dengan tersedianya beberapa gerai pendunkung mulai dari aksesories motor, kelengkapan touring, sampai game balap motor, dan Bilyard, kesemuanya terpaket dalam kemeriahan yang khas anak motor dihamparaan luas halaman depan pantai wisata Bentar.
Bagi yang hobi kuliner disana juga terdapat sebuah bangunan pujasera yang menyediakan berbagai masakan khas jawa timur khususnya Probolinggo serta beberapa kios yang menawarkan souvenir-souvenir lucu dan keren khas pantai bentar.
Seru kami menikmati acara demi acara malam itu sehingga capek dan ngantuk mengingatkan kami untuk segera kembali ke sarang mimpi, dengan hentak music hiphop yang masih terngiang, gemulai sexy dancers yang masih membayang serta banyak hal lain yang menyisakan semangat dan kenangan tersendiri mengiringi kami dan sibuluck menjauh kearah timur, meninggalkan pantai yang masih dipenuhi dengan tawa dan riang gembira para pengunjungnya.
Beriringan dengan sekelompok klub motor dari pulau Madura, terlihat dari nomor polisinya, dari keluar gerbang pantai sampai taman kota Kraksaan sibuluck enjoy melaju untuk kembali dan beristirahat, sehingga dengan terbukanya mata esok hari kami semua sudah berada di tahun yang baru 2009.
Malam itu kemeriahan dan keriangan perayaan tahun baru 2009 kami lewati dengan damai dan kesan yang ceria meski masih menyisakan sebuah tanya.
Besok taon baruan kemana yah….?


